Selasa, 04 Januari 2011

Ngurek

BAB I
ISI

2.1.    Pengertian Ngurek
          Tradisi Ngurek atau Ngunying hingga kini masih dilestarikan oleh masyarakat Bali. Tradisi tersebut ada di sejumlah daerah di Bali. Tradisi ini umumnya berkaitan erat dengan ritual keagamaan. Bahkan, di sejumlah desa adat di Bali tradisi ini wajib dilangsungkan.
          Tradisi Ngurek di Bali merupakan wujud bakti seseorang kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Atraksi menusuk diri dengan keris ini berlangsung ketika para pelaku berada dalam keadaan kerauhan (trance). Ini sebuah keunikan sekaligus misteri yang sulit dijelaskan, namun amat biasa bagi orang Bali.
          Ngurek berasal dari kata ‘urek’ yang berarti lobangi atau tusuk, jadi Ngurek dapat diartikan berusaha melobangi atau menusuk bagian tubuh sendiri dengan keris,tombak,atau alat lainnya saat berada dalam kondisi kerauhan. Karena Ngurek dilakukan dalam kondisi kerauhan, maka roh lain yang memasuki tubuh akan member kekuatan, sehingga menjadi kebal.
          Tradisi Ngurek biasa dilakukan di luar areal pura utama. Sebelum Ngurek dilakukan, biasanya Barong dan Rangda serta orang yang biasa Ngurek (juru urek) yang juga biasa disebut dengan ‘pepatih’ keluar dari kompleks pura utama dan mengelilingi wantilan pura sebanyak 3 kali. Saat melakukan hal itulah, para pepatih mengalami titik kulminasi spiritual tertinggi dan keris pun langsung ditancapkan ke bagian tubuhnya tanpa terluka sedikitpun. Ngurek sendiri memiliki gaya masing-masing, ada yang berdiri sembari menancapkan keris ke bagian tubuhnya dan ada pula yang bersandar di pelinggih kemudian menancapakn keris ke tubuhnya sendiri. Setelah upacara selesai, para pelaku ngurek kembali ke areal pura utama.
          Menurut sejarahnya, tradisi Ngurek bersumber dari ritus keagamaan di Bali. Biasanya dilakukan saat upacara Dewa Yadnya yang disebut Ngeramen di pura, sanggah (merajan) dan paibon. Prosesi sakralnya berbeda-beda antara daerah satu dengan lainnya.
          Tradisi Ngurek tidak hanya dilakukan di Bali, tapi juga terdapat di daerah lain. Misalnya di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, kebiasaan ini dilakukan oleh mereka yang disebut juru doa, mirip dengan balian atau dukun. Para juru doa ini diundang untuk memimpin hajatan. Manakala ritual berlangsung, juru doa akan mengalami kerauhan dan langsung mencabut keris kecil yang terselip di pinggangnya kemudian menusuk telapak tangannya sendiri, berlanjut menikam dada dan perutnya. Fenomena sejenis juga dapat disaksikan dalam kesenian tradisional suku Jambi yang menampilkan tarian berkolaborasi dengan budaya magis. Pada puncak tarian si penari wanita akan menusukkan dua pedang yang tadi dipakai menari ke tubuhnya sendiri dalam keadaan trance.
          Pada masyarakat Hindu India, khususnya penyembah Durga Ma dalam perayaan Tiruwila juga biasa menampilkan atraksi serupa. Hanya saja mereka benar-benar menusuk bagian anggota tubuhnya hingga tembus dengan benda-benda tajam. Adegan ini sebenarnya merupakan satu aktivitas ritual bagi pemuja sakti, dengan menghadirkan kekuatan supranatural, roh-roh gaib untuk membantu atraksi, sehingga tidak sampai membahayakan nyawa mereka.
          Kondisi kerauhan (trance) bisa diupayakan, namun sulit diduga mengenai waktu maupun orang yang mungkin akan kerauhan. Orang yang disiapkan untuk kerauhan bisa jadi tidak mengalami apa-apa. Sebaliknya justru pada partisipan lainnya yang mengalami kerauhan. Trance dalam Ngurek biasanya terjadi atau diupayakan dengan prosesi ritual khusus. Untuk mencapai klimaks kerauhan, mereka harus melakukan serangkaian ritual. Tahap-tahap itu secara garis besar dapat dibagi tiga yakni Nusdus, Masolah, Ngaluwur. Nusdus adalah merangsang para pelaku ngurek dengan asap asap yang beraroma harum menyengat. Masolah merupakan tahap menari dengan iringan lagu-lagu dan koor kecak atau bunyi gamelan. Sedangkan Ngaluwur berarti mengembalikan pelaku ngurek pada jati dirinya.
          Dari fenomena Ngurek yang berkembang saat ini dan membandingkannya dengan tradisi serupa di sejumlah ritual Hindu di tempat lain, atau pada keyakinan agama lain di suatu daerah, maka Ngurek merupakan perpaduan antara dua hal. Pertama. Tradisi ini merupakan kebiasaan masyarakat Bali Purba dari zaman animism-dinamisme, dimana saat upacara mengundang roh leluhur dilakukan, para roh diminta untuk berkenan memasuki badan orang-orang yang telah ditunjuk. Bagi masyarakat animisme-dinamisme, kerauhan yang diikuti atraksi Ngurek dipercaya sebagai sebuah tanda, bahwa roh-roh yang diundang telah hadir di sekitar mereka. Kedua. Tradisi Ngurek bagi masyarakat Hindu Bali di beberapa daerah memiliki fungsi mirip dengan kepercayaan animisme, tetapi bedanya tidak dalam rangka mengundang roh leluhur, namun mengundang Ida Bhatara dan para Rencang-Nya untuk berkenan menerima persembahan ritual saat upacara piodalan. Jika orang-orang yang ditunjuk sudah kerauhan dan mulai ngurek, maka masyarakat bisa mengetahui dan meyakini kalau Ida Bhatara sudah tedun dan berkenan katuran piodalan. Dengan turunnya Ida Bhatara ke marcapada (dunia), maka umat yang mengikuti prosesi ritual piodalan ini kian mantap dengan semangat bhaktinya.
2.2     Makna Ngurek
          Ngurek merupakan bagian dari yadnya atau pengorbanan yang tulus ikhlas seorang hamba kepada Tuhannya. Hampir semua agama memiliki cara tersendiri dalam melakukan pengorbanan diri sebagai tanda bhakti kepada Tuhan. Seperti misalnya ketentuan selibat (membujang) dalam ajaran agama Kristen, kewajiban berpuasa atau tidak makan dan minum dalam agama Islam, meditasi dan ajaran vegetarian dalam agama Budha, kemudian dalam Hindu sendiri banyak jenis ajaran pengorbanan diri, mulai dari puasa, yoga, brhmachari, ngurek, dan sebagainya.
          Dalam sebuah ritual upacara di Bali, selain dengan mempersembahkan berbagai bentuk bebantenan, ada juga komponen persembahan lain, seperti misalnya tarian, music atau gamelan, kidung, dan beragam bentuk persembahan lainnya. Ngurek sendiri merupakan persembahan dalam bentuk tari-tarian yang intinya adalah mengorbankan diri dengan cara kerelaan ditikam (disakiti) untuk menunjukkan kepatuhan pada Sang Maha Pencipta. Dalam atraksi Ngurek inilah setiap peserta mengekspresikan dirinya, secara simbolik ingin mengorbankan dirinya kepada dewa yang dipujanya. Menusuk badan sendiri jelas menimbulkan rasa sakit secara alamiah. Namun, secara umum cara penyiksaan badan sebagai wujud kecintaan kepada yang dipuja hamper menjadi pola umum dalam setiap sistem kepercayaan, hanya saja bentuknya yang berbeda-beda.
          Dalam agama Hindu ada upacara potong rambut atau juga potong gigi (metatah) sebagai bentuk riil mengorbankan diri. Dalam sistem kepercayaan sebuah suku di Papua bahkan ada mengorbankan diri dengan memotong salah satu jari tangan bila ada keluarganya yang meninggal. Disamping itu ada juga pengikut agama Islam Syiah di Iran dan Irak yang memperingati hari besarnya dengan melukai diri hingga berdarah. Hal yang mirip dengan pengikut Kristen di Filipina Selatan yang merayakan Natal dengan cara memukul-mukul bagian badannya dengan rantai besi. Komunitas Hindu di Malaysia juga punya upacara bernama Tai Pusam, ditandai dengan menusukkan tombak atau jarum ke berbagai bagian tubuhnya hingga darah menetes ke bumi.
          Di desa Tenganan, Karangasem, Bali ada tradisi perang pandan atau lebih dikenal dengan mageret pandan yang merupakan ritual menek truna (meningkat dewasa bagi kaum pria). Mereka yang telah berani ambil bagian dalam upacara mageret pandan sudah sah dianggap dewasa secara adat. Dengan menggenggam daun pandan  yang berduri dan tameng yang terbuat dari rotan, mereka mulai berperang dengan cara menancapkan daun pandan ke tubuh lawan lalu menariknya hingga menimbulkan luka dan darah mengucur dari tubuh. Jelas, ritual ini berada dalam bingkai magis, suatu persembahan yang tidak terhenti pada pembuktian pada kelompok tertentu, tetapi juga kepada kekuatan-kekuatan supranatural. Mengucurkan darah dalam perang pandan adalah salah satu persembahan pengorbanan diri kepada Tuhan.
          Dalam perkembangan selanjutnya, suatu cara pengorbanan tidak hanya meliputi pengorbanan diri sendiri, tetapi memakai media lain dengan cara menyembelih binatang, mempersembahkan darahnya dalam upacara caru. Hewan yang biasa dipakai seperti ayam, itik, anjing belang bungkem, kerbau, dan lain sebagainya.
          Ajaran agama Islam juga mengajarkan umatnya untuk memotong hewan kurban seperti kambing, sapi, dan kerbau pada saat hari raya Idul Adha. Perintah berkurban ini adalah sebagai bentuk penghormatan kepada nabi Ibrahim yang telah merelakan putranya untuk disembelih demi membuktikan kecintaannya terhadap Tuhannya. Karena kesediaannya berkorban itulah kemudian nabi Ibrahim diangkat derajatnya lebih tinggi dan dijadikan contoh oleh umat selanjutnya sampai sekarang.
          Kendati secara praktek pengorbanan kepada dewa-dewa sudah digantikan dengan hewan tertentu, namun dalam seremonial upacara, simbol pengorbanan diri ini masih dilakukan. Salah satu simbol tersebut adalah Ngurek, sebagai bentuk menumpahkan darah sendiri ke bumi. Meskipun tanpa cucuran darah yang menetes dari tubuh pengurek bukanlah halangan untuk meluapkan kerinduan kepada dewa yang disembahnya. Suasana kerauhan (trance) menjadikan bathin berekspresi dengan leluasa dan jati diri pribadi melakukan kepasrahan total pada Sang Maha Pencipta.
2.3 Jenis - Jenis Ngurek
          Dari pelaksanaan Ngurek di berbagai tempat di Bali, maka ngurek dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu:

a.     Ngurek yang termetodiskan atau terpola
Ritual ngurek jenis ini dilakukan dan berlangsung secara teratur dan terkendali, karena menjadi satu rangkaian dengan pelaksanaan upacara piodalan. Umumnya Ngurek dilakukan oleh para pepatih dengan menggunakan keris, tombak, dan alat lainnya.
Ngurek merupakan perwujudan bhakti atau keikhlasan seseorang dan sebagai tanda Tedunnya iring-iringan Ida Bhatara menyaksikan jalannya ritual upacara.
b.    Ngurek yang tak termetodiskan
Ngurek yang tidak harus dilaksanakan pada saat ritual keagamaan. Dalam hal ini Ngurek akan dilakukan sesuai kebutuhan sebagai bukti bahwa dasaran itu benar-benar kerauhan sambil memberikan pesan-pesan niskala saat berlangsungnya piodalan, biasanya berkaitan dengan pelaksanaan upacara, apakah sudah diterima atau masi ada suatu yang kurang dari persembahan yang dilakukan. Pada situasi ini mereka yang Ngurek bisa pemangku, dasaran pepatih, penyungsung pura, anggota karma desa, pragina gamelan, tokoh masyarakat, orang dewasa atau anak-anak, laki atau perempuan. Namun mereka melakukan Ngurek tetap dalam kondisi kerauhan. Kendati keris tajam dihujamkan ke tubuh berkali-kali, tak menyebabkan setetes darah pun mengucur.
c.      Ngurek untuk pertunjukan
Seiring perkembangan dunia pariwisata, selain untuk kebutuhan upacara keagamaan, berkembang juga Ngurek untuk kepentingan hiburan yang dikenal dengan sebutan Barong and Keris Dance. Pertunjukan ini mementaskan seni Arja dengan lakon Calonarang yang menceritakan kisah pertempuran Ni Calonarang (Ratu Natengdirah) dengan Patih Maling Maguna yang dihiasi pertunjukan menikam-nikam sang Rangda sebagai jelmaan Calonarang.
Para penari semata-mata memberikan atraksi hiburan kepada penonton. Mereka membekali diri dengan jimat kekebalan atau mengatur dengan teknik tertentu supaya terkesan kerauhan sungguhan. Bagi wisatawan asing yang tidak mengerti, apayang dilakukan oleh penari itu dianggap Ngurek sungguhan. Padahal itu hanya dilakukan dengan menggunakan teknik dan peralatan tertentu sehingga kelihatan serius.

2.4     Gerakan Ngurek
          Sebelum prosesi Ngurek dimulai, Pemangku Pengenter akan menghaturkan tetabuhan untuk mohon ijin serta keselamatan kehadapan Ida Bhatara.
Untuk pepatih pemula perlu didampingi oleh pepatih senior, karena pada saat mulai kerauhan dia bisa lepas kontrol, sehingga gerakannya jadi tidak karuan. Namun semakin berpengalaman maka ia akan mampu menguasai energi tersebut dan Ngurek menjadi lebih aman.
Apabila Ngurek itu dilakukan dengan tulus dan tidak dibuat-buat, maka gerakan-gerakan yang dimunculkan oleh kekuatan iringan Ida Bhatara akan terjadi dengan hebatnya. Akan tetapi bila ada yang ngurek tidak murni karena kerauhan, maka mereka akan bergerak sesuai kehendak hatinya dan ini bisa membahayan dirinya sendiri.
Gerakan saat Ngurek dan kerauhan sangat ditentukan oleh iringan yang ngelinggihin orang tersebut. Jika yang ngelinggihin itu berkarakter ganas, walaupun pepatih itu usianya sudah tua, tetap saja akan menampilkan gerakan yang beringas.
Pada umumnya gerakan saat Ngurek dipengaruhi juga oleh pribadi pepatih yang kerauhan itu dalam kehidupan sehari-harinya. Sebab, biasanya iringan Ida Bhatara akan mencari wadah yang mendekati karakternya. Yang berkarakter ganas akan memasuki manusia yang memiliki pribadi serupa, demikian pula iringan yang berkarakter kalem akan mencari orang kalem juga.
Ngurek dalam sebuah ritual mempunyai gerakan tersendiri sesuai dengan iringan Ida Bhatara yang ngelinggihin. Ada yang berdiri sambil menancapkan keris ke bagian tubuhnya,ada juga yang bersandar di pelinggih kemudian menikamkan keris ke tubuhnya. Biasanya mereka menggunakan sebilah keris,tetapi ada pula yang menggunakan dua buah keris sekaligus. Ada yang bertingkah sambil merayap, berlari mengelilingi bebantenan, ada juga yang melompat-lompat sambil tertawa-tawa.
2.5     Menangani Orang Ngurek
          Penanganan terhadap orang Ngurek meliputi menjaga, mengawasi, dan bila perlu membantu memegang para pepatih yang sedang Ngurek agar jangan terjatuh atau bergerak berlebihan.
          Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menangani orang Ngurek, diantaranya adalah senioritas para pepatih, gerakan yang ditimbulkan saat Ngurek, iringan Ida Bhatara yang ngelinggihin, kondisi lokasi, dan jenis upacara pada saat Ngurek dilakukan. Jika seorang pepatih sudah senior dan ngaturang ayah dengan tulus ikhlas, maka dia tidak perlu dijaga dan diawasi, karena dia sudah dapat mengontrol segala gerakannya. Namun, bagi para pepatih pemula sangat perlu penjagaan dan pengawasan, karena biasanya dia belum bisa mengontrol dirinya, sehingga gerakannya jadi tak terarah, berlebihan, malah bisa membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
          Menangani orang ngurek bagi pepatih yang sudah senior tidak ada masalah walaupun dengan gerakan apapun, biarkan mereka berkreasi dan setelah tiba waktunya, dia akan selesai dengan sendirinya. Kalau sudah selesai (nyineb) kemudian dihaturkan arak berem, lalu diperciki wangsuhpada Ida Bhatara.
          Pepatih yang pada saat ngurek menimbulkan banyak gerakan yang membahayakan seperti sering memindahkan ujung keris dari dada, perut, pinggang, kepala, kelopak mata, pipi, dahi, dan bagian tubuh lainnya biasanya diberi kata-kata peringatan oleh pepatih yang lebih senior atau oleh pemangku. Bila ada pepatih yang bergerak berguling terlalu jauh dan merusak perlengkapan upacara maka biasanya akan ditahan dengan kaki agar dia berhenti berguling.
          Iringan Ida Bhatara yang ngelinggihin pepatih jenisnya bermacam-macam dan hal tersebut akan menimbulkan berbagai bentuk gerakan yang sesuai dengan karakter roh yang memasukinya. Setiap gerakan ini jika dimunculkan secara murni oleh para pepatih, maka akan memperlihatkan suatu gerakan yang indah karena sesuai dengan gerakan ancangan Ida Bhatara yang sedang ngelinggihin. Gerakan yang bersifat murni akan muncul bila Ngurek dilaksanakan dengan tulus ikhlas dan tidak ada maksud untuk pamer kekebalan dan tidak menambah-nambah gerakan buatan sendiri diluar kehendak roh yang merasuki tubuh.
          Lokasi ritual juga mempengaruhi keberadaan pepatih yang sedang Ngurek dan akan berpengaruh juga pada cara penanganannya. Misalnya pada lokasi yang sempit akan memerlukan kemampuan khusus dari para pepatih dan pemangku agar pada saat berdesak-desakan tidak sampai menimbulkan kecelakaan. Begitu juga jika pepatih yang ngaturang ayah jumlahnya cukup banyak diperlukan pengaturan yang bagus agar tidak terjadi saling tabrak antara satu dengan lainnya. Suasana dan kondisi yang kondusif sangat perlu diciptakan, disamping itu juga para petugas pendukung harus tahu dan paham betul dengan tugasnya masing-masing, mampu berkoordinasi dengan baik, sehingga proses Ngurek dapat berjalan dengan lancar.
          Tingkatan atau jenis upacara juga perlu diperhatikan dalam menangani pepatih yang Ngurek. Jika upacaranya tergolong kecil maka jumlah pengurek juga sedikit dengan aura magis yang tidak terlalu kuat, sehingga cara penanganannya juga cukup sederhana. Sebaliknya, jika tingkatan upacaranya tergolong besar, pepatih yang hadir biasanya juga berjumlah banyak, dengan aura magis yang cukup kuat, sehingga penanganannya juga lebih khusus seperti dilengkapi dengan pemotongan beberapa binatang seperti ayam, bebek, dan babi.
2.6     Kecelakaan
          “Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya akan jatuh juga”, begitulah bunyi salah satu peribahasa, yang artinya walau kita sudah mahir melakukan sesuatu tapi suatu saat pasti akan menemukan kegagalan. Begitu juga pada ritual Ngurek, walaupun sudah dipersiapkan dengan matang mungkin saja terjadi kecelakaan, seperti saat Ngurek ada pepatih yang terluka oleh keris yang dipakainya. Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan terjadinya kecelakaan saat Ngurek, diantaranya adalah :
          Pertama, pepatih yang akan ngaturang ayah belum mencapai kerauhan total, tetapi karena peserta yang lain sudah kerauhan dan mulai melakukan Ngurek, maka dia ikut Ngurek dalam kondisi kerauhan yang belum sempurna, hal ini dapat mengakibatkan kecelakaan yang berakibat fatal bagi dirinya sendiri.
          Kedua, perasaan ragu dan tidak ikhlas saat ngaturang ayah, akibat permasalahan pribadi dari seorang pepatih akan mempengaruhi kondisi kejiwaan dan emosinya. Hal ini akan menyebabkan ancangan Ida Bhatara yang ngelinggihin tidak dapat masuk dengan sempurna, kekebalan tubuh pada saat Ngurek jadi tidak sempurna, maka kemungkinan terluka saat Ngurek bisa terjadi.
          Ketiga, badan pepatih dalam keadaan leteh atau kotor dapat menyebabkan kecelakaan saat Ngurek. Leteh ini bisa diakibatkan karena melanggar pantangan sebagai pepatih. Salah satu contohnya adalah tidak datang ke tempat-tempat mesum, tidak berselingkuh, tidak makan atau minum yang terlarang, dan lain sebagainya. Hal itu jika dilanggar akan menyebabkan badan menjadi leteh atau kotor. Pada saat kerauhan, ancangan Ida Bhatara dengan energi supranaturalnya masuk ke tubuh pepatih. Namun, karena dalam kondisi kotor, maka tubuhnya tidak sanggup menampung energi yang masuk, sehingga tubuh tidak akan menampakkan kekebalannya.
          Keempat, kesombongan seorang pepatih dapat mengakibatkan kecelakaan. Misalnya, karena dalam kesehariannya biasa menggunakan jimat atau ilmu kekebalan, maka dia merasa yakin dan sesumbar tidak akan tembus senjata saat ditikam. Karena terlalu yakin dengan kekebalan dirinya sendiri mengakibatkan energi dari roh tidak bisa masuk dengan sempurna, akhirnya kekebalan yang dibangga-banggakan tidak bisa berfungsi, dan kecelakaan pun tidak bisa dihindari. Oleh sebab itu, pada saat Ngurek atau Ngunying harus didasari dengan sikap pasrah, tulus ikhlas, percaya kepada Ida Bhatara, sehingga jimat dan ilmu kekebalan buatan manusia tidak diperlukan lagi.
          Kelima, kecelakaan dapat terjadi karena salah teknik. Bagi pepatih pemula yang merasa dirinya tidak dalam kondisi bagus atau kerauhannya tidak sempurna, cara Ngurek yang aman adalah dengan menekankan ujung keris pada satu titik saja pada bagian tubuh. Namun, untuk pepatih senior yang sudah percaya diri akan kerauhan total, maka bisa saja menusukkan keris ke bagian tubuh yang mana saja tanpa perlu takut terluka.
          Keenam, kecelakaan juga bisa terjadi akibat kurang lengkapnya sarana upacara. Meskipun para pepatih sudah memenuhi semua persyaratan yang ditentukan, namun kecelakaan saat Ngurek bisa saja terjadi sebagai peringatan kalau ada upakara yang belum lengkap. Biasanya kecelakaan seperti ini bermakana teguran, dan luka yang terjadi juga tidak terlalu serius, hanya sebatas luka ringan saja.
2.7 Pencegahan
          Seperti dalam pembahasan sebelumnya, kecelakaan dalam ritual Ngurek dapat disebabkan oleh beberapa hal. Untuk mencegah terjadinya kecelakaan saat Ngurek itu, maka penyebabnya perlu ditanggulangi atau dicari jalan keluarnya terlebih dahulu. Setelah kita mengenali penyebab terjadinya kecelakaan saat Ngurek, maka untuk mencegahnya bisa dilakukan dengan lebih mudah asalkan ada kemauan, serta dilakukan dengan tulus ikhlas. Diantaranya yang dapat dilakukan untuk mencegah kecelakaan Ngurek adalah :
          Pertama, untuk mencegah terjadinya luka yang diakibatkan oleh pepatih yang belum siap atau belum kerauhan total,sudah seharusnya para pepatih yang akan Ngurek tersebut mempersiapkan dirinya sejak awal untuk total ngaturang ayah selama upacara berlangsung. Lakukan semua dengan pasrah dan selalu memanjatkan doa kepada Ida Bhatara sesuhunan setiap akan memulai Ngurek. Hal ini sebagai tanda bahwa setiap tahapan-tahapan upacara harus diikuti sepenuh hati dan selalu ada dalam keadaan siap dan waspada. Begitu juga jika akan Ngurek sudah semestinya setiap pepatih mempersiapkan jiwa dan raganya untuk ngaturang ayah.
          Kedua, bila ketika akan Ngurek ada perasaan ragu-ragu dan tidak tulus, maka daripada menimbulkan dampak buruk lebih baik tidak usah ngaturang ayah bila kondisi tidak mendukung. Kalau sudah ke pura hendaknya kita satukan pikiran agar focus pada Ida Bhatara. Itulah sebabnya kenapa hampir seluruh pintu masuk ke utama mandala berbentuk Candi Kurung, bukan Candi Bentar, yang bermakna rwa bhineda dalam pikiran sudah bersatu padu menuju satu tempat ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa.
          Ketiga, Untuk mencegah agar badan pepatih tidak leteh atau kotor, maka setiap pepatih harus rajin membersihkan diri, baik secara sekala maupun secara niskala. Salah satu contohnya adalah dengan melakukan panglukatan yaitu mandi dengan dilengkapi dengan sarana upakara. Disamping itu untuk menjaga kesucian diri, maka perlu dihindari tempat-tempat yang dilarang oleh ajaran agama, seperti diskotik, kafe remang-remang, tempat prostitusi, tempat judi, dan lain-lainnya. Juga perlu dihindari pikiran serta ucapan yang bersifat negatif, yang bisa merusak jiwa.
          Keempat, seorang pepatih harus bersifat rendah hati, tidak boleh sombong dalam menunjukkan kekuatan dan kekebalan, karena Ngurek merupakan serangkaian ritual upacara keagamaan, yang tidak boleh disamakan dengan Ngurek yang hanya bersifat hiburan semata. Jadi seorang pepatih yang melakukan atraksi Ngurek bukanlah untuk memperlihatkan kebolehannya memainkan keris dan senjata tajam lainnya, akan tetapi proses Ngurek itu harus dilakukan dengan tujuan pengorbanan dan menyerahkan diri kepada Tuhan.
          Kelima, mengenai teknik Ngurek, masing-masing pepatih punya gaya sendiri-sendiri. Asalkan dia mau memasrahkan dirinya saat Ngurek, maka akan mudah mengalami kerauhan sempurna, sehingga saat demikian roh yang memasuki tubuh akan memberikan kekuatan lebih dan walau ke bagian tubuh mana saja keri ditusukkan tidak akan menimbulkan luka.
          Keenam, untuk menghindari kekurangan upakara, maka perlu pedoman untuk masing-masing pura, berupa buku yang memuat segala sesuatu tentang ketentuan di setiap pura, baik mengenai upakara maupun upacara serta tata cara pelaksanaannya. Dengan adanya panduan seperti itu maka diharapkan tidak ada sarana dan kelengkapan upacara yang dilupakan.


Hari Raya Siwaratri

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Hari Siwaratri menyimpan makna serta simbul yang sangat mendalam sebagai bahan renungan yang tak pernah habis untuk dikaji. Tidak cukup hanya dengan prosesi ritualitas semata, melainkan harus dipahami makna-makna yang terkandung didalamnya. Dengan adanya pemahaman yang benar serta dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka hari suci keagamaan akan sesuai dengan tujuan perayaan hari raya tersebut. Kegiatan ritual Siwaratri mesti dilaksanakan sesuai petunjuk sastra. Di samping itu juga tidak kalah pentingnva yakni merealisasikan makna-makna simbolis yang terkandung didalamnya ke dalam wujud/kehidupan sehari-hari.
Hari suci Siwaratri sangat identik dengan begadang semalam suntuk serta cerita Lubdhaka yang dikarang oleh Empu Tanakung.
Perayaan Siwaratri adalah salah satu bentuk pelaksanaan ritual bagi umat Hindu yang mengajarkan kita untuk selalu memelihara kesadaran diri agar terhindar dari perbuatan dosa dan papa.  Diakui  atau  tidak,  manusia  adalah gudangnya  kealpaan (lupa), hal ini disebabkan karena manusia memiliki keterbatasan. Karena sering mengalami lupa itu, maka setiap tahun pada sasih kepitu (bulan ketujuh menurut penanggalan Bali), dilangsungkanlah upacara Siwa Ratri dengan inti perayaan malam pejagraan. Pejagraan yang asal katanya jagra itu artinya sadar, eling atau melek. Orang yang selalu jagra-lah yang dapat menghindar dari perbuatan dosa.

1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah pengertian dari hari raya Siwaratri ?
1.2.2 Apa saja prosesi kegiatan saat menjalankan hari raya Siwaratri ?
1.2.3 Bagaimana tata cara melaksanakan upacara Siwaratri?
1.2.4 Apakah makna dari perayaan hari raya Siwaratri ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk memenuhi tugas agama
1.3.2 Untuk memahami pengertian dari hari raya Siwaratri
1.3.3 Untuk mengetahui prosesi kegiatan yang dilakukan saat menjalankan hari raya Siwaratri
1.3.4 Untuk mengetahui tata cara upacara Siwaratri
1.3.5 untuk memahami makna dari perayaan hari raya Siwaratri

1.4 Manfaat
Dengan penulisan makalah ini dapat memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai pengertian, prosesi serta makna dari perayaan hari raya Siwaratri. Dan pembaca dapat menerangkan pikiran serta menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi serta melatih diri dalam mengendalikan hawa nafsu jahat yang ada di dalam diri setiap manusia dengan jalan melaksanakan Brata Siwaratri yaitu Upawasa, Monobrata, dan Jagra.

1.5 Metoda Penulisan
Metoda yang saya gunakan dalam penulisan makalah ini antara lain :
1.     Mencari materi mengenai Siwaratri melalui berbagai sumber, baik dari buku - buku agama Hindu, maupun dari internet
2.     Mengumpulkan informasi – informasi yang telah didapat
3.     Membuat kerangka penulisan dalam kertas buram


BAB II
ISI

2.1 Pengertian
Hari Raya Siwaratri merupakan hari raya berdasarkan atas pranata masa yang dirayakan setiap setahun sekali. Tepatnya jatuh pada Purwaning Tilem Kepitu.
Difinisi Siwaratri menurut Ketut Sukartha dan kata “Siwaratri” berasal Siwa dan Ratri. Siwa artinya Puncak dan Ratri artinya malam. Siwaratri berarti puncak malam. Sedangkan difinisi menurut Tjok Rai Sudharta “Siwaratri artinya malam Siwa. Siwa berasal dari bahasa sansekerta yang artinya baik hati, suka memaafkan, memberi harapan dan membahagiakan. Dalam hal ini kata Siwa adalah sebuah gelar terhadap menifestasi Ida Sang Hyang Widi Wasa yang diberi nama gelar kehormatan “Dewa Siwa” yang berfungsi sebagai pemralina atau pelebur. Ratri artinya malam. Malam disini maksudnya kegelapan. Jadi Siwaratri artinya malam untuk melebur kegelapan hati menuju jalan yang terang.
Siwa Ratri pada hakekatnya adalah merupakan kegiatan namasmaranam pada Siwa. Namasmaranam artinya selalu mengingat dan memuja nama Tuhan yang jika dihubungkan dengan Siwa Ratri adalah nama Siwa. Nama Siwa memiliki kekuatan untuk melenyapkan segala kegelapan bathin. Jika kegelapan itu mendapat sinar dari Hyang Siwa, maka lahirlah kesadaran budhi yang sangat dibutuhkan setiap saat dalam hidup ini.

2.2 Prosesi Kegiatan
Kegiatan- kegiatan yang dilaksanakan pada hari tersebut adalah sebagai berikut:
1.     Sebelum melaksanakan seluruh kegiatan, maka terlebih dahulu dilaksanakan persembahyangan yang diperkirakan selesai tepat pada jam 06.00 dinihari
2.     Selanjutnya tepat pada jam 06.00 panglong ping 1 sampai pukul 18.00 Tileming sasih Kepitu dimulai kegiatan Monabrata (tidak berbicara), Upawasa (tidak makan dan minum) dan Mejagra (tidak tidur).
3.     Brata Siwaratri dilaksanakan selama 36 jam. Brata Siwaratri dengan melaksanakan Monabrata 12 jam, Upawasa 24 jam, Mejagra selama 36 jam.
Adapun Tiga Tingkatan Pelaksanaan Brata Siwa Ratri :
1.            Nista,
yaitu pelaksanaan Brata Siwa Ratri dengan Jagra, artinya kesadaran itu dalam pelaksanaan Brata Siwa Ratri disimpulkan dengan melek semalam suntuk, sambil memusatkan segala aktifitas diri pada Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Sanghyang Siwa. Ada yang melaksanakan jagra semalam suntuk dengan membahas sastra-sastra agama,seperti kakawin dalam berbagai judul. Ada pula yang melaksanakan sauca dan dhyana. Dalam kitab Wrhaspati Tattwa disebutkan, “Nitya majapa maradina sarira”. artinya sauca adalah melakukan japa dan selalu membersihkan badan. Sedangkan Dhyana dalam kitab Sarasamuscaya disebutkan, Nitya Siwa Smaranam, artinya selalu mengingat dan memuja Sanghyang Siwa. Brata Siwa Ratri dengan jagra tidaklah tepat kalau hanya begadang semalam suntuk tanpa arah menuju kesucian Tuhan.Jagra dalam pengertian yang sebenarnya adalah orang yang memiliki kesadaran budhi. Melek semalam suntuk hanyalah prilaku yang bermakana simbolis untuk memacu tumbuhnya budhi yang sebenarnya.
2.            Madya
adalah pelaksanaan Brata Siwaratri dengan jagra dan upawasa. Upawasa dalam kitab Agni Purana berarti “kembali suci”. Yang dimaksud kembali suci ini adalah dilatihnya indriya melepaskan kenikmatan makanan. Lezatnya makanan adalah sebatas lidah. Kalau sudah lidah dilewati makanan itu tidak akan terasa lezat. Lidah harus dilatih untuk tidak terikat pada kelezatan makanan.
3.      Uttama,
yaitu pelaksanaan Brata Siwa Ratri dengan cara Jagra, Upawasa, dan Mona Brata, artinya pelaksanaan dengan cara melek atau menyadarkan diri, menahankan kenikmatan makanan dan berusaha mengurangi berbicara (Mona). Mona artinya tanpa mengeluarkan ucapan-ucapan yang bertujuan melatih diri dalam hal berbicara agar biasa berbicara dengan penuh pengendalian sehingga tidak keluar ucapan-ucapan yang tidak patut diucapkan. Mona berarti melatih pembicaraan pada diri sendiri dengan merenungkan kesucian.

Pada waktu pelaksanaan Brata Siwaratri sebagai lambang yang bernilai sakral bertujuan untuk melenyapkan sifat-sifat buruk. Menurut Tjok Rai Sudharta, brata Siwaratri berasal dari bahasa Sansekerta. Kata “Brata” artinya janji, sumpah, pandangan, kewajiban, laku utama, keteguhan hati. Brata Siwaratri dapat disimpulkan sebagai laku utama/janji untuk berteguh hati melaksanakan ajaran Siwaratri. Brata Siwaratri tidak berhenti sampai pelaksanaan Hari Raya Siwaratri saja, melainkan perlu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa adanya aplikasi/wujud dalam kehidupan sehari-hari maka hari raya itu akan tanpa makna dan akan lewat begitu saja.
1.       Jagra (berjaga/tidak tidur/melek/ waspada)
Brata Jagra ini paling mudah dilakukan, sebab semua orang mampu untuk tidur semalam suntuk. Dalam cerita Lubdhaka jagra ini disimbolkan oleh Lubdhaka yang tidak tidur di atas pohon bila semalam suntuk. Untuk mengusir kantuknya Lubdhaka memetik daun “bila” sehingga dosanya terlebur. Jagra dalam pelaksanaan Siwaratri dapat dilakukan dengan jalan tidak tidur semalam 36 jam.
Dalam kehidupan sehari-hari makna jagra ini dapat diaplikasikan dengan cara selalu eling (waspada, ingat, berfikir, dll.) terhadap sang diri. Dalam kehidupan ini kita tidak bisa lepas dan musuh-musuh, baik itu yang berasal dari dalam diri (sad ripu, sapta timira dan Sad atatayi) maupun dari luar diri. Untuk menghadapi musuh-musuh tersebut diperlukan kewaspadaan yang relatif tinggi, sehingga kita bisa terlepas dari musuh-musuh tersebut. Kewaspadaan yang tinggi tentunya diperoleh dengan menggunakan pikiran.
Kedatangan Hari Suci Siwaratri mengajak kita untuk merenung agar selalu tetap mawas diri dan menyadari diri kita yang sejati. Sebagaimana tersurat didalam Wrehaspati Tatwa, bahwa nafsu dan keinginan tidak pernah putus didalam diri kita. Kesadaran akan lenyap bila kita hanya tidur. Orang yang selalu terbelenggu oleh tidur (turu) disebut dengan papa. Pengertian papa sangat berbeda dengan pengertian dosa. Pengertian papa dalam hal ini adalah keadaan yang selalu terbelenggu oleh raga atau indriya yang dinyatakan sebagai turu (tidur). Tidur berarti juga malas. Orang yang malas bekerja akan menimbulkan kekacauan pikiran sehingga lupa akan keberadaan dirinya sendiri. Dengan demikian pikiran merupakan sumber segala yang dilakukan oleh seseorang. Baik-buruk perbuatan manusia merupakan pencerminan dari pikiran. Bila baik dan suci pikiran seseorang maka sudah barang tentu perbuatan dan segala penampilan akan bersih dan baik. Berusaha berpikir untuk tidak menginginkan sesuatu yang tidak halal, berfikir buruk serta percaya dengan hukum karma.
1.       Upawasa (tidak makan dan minum)
Upawasa dapat diartikan sebagai pengendalian diri dalam hal makan dan minum. Pada waktu Siwaratri puasa ini dilakukan dengan jalan tidak makan dan minum. Dalam kehidupan sehari-hari dapat diaplikasikan dengan cara selalu makan makanan yang bergizi yang dibutuhkan oleh jasmani maupun rohani. Disamping itu, dalam hal untuk mendapatkan makanan yang kita makan hendaknya dicari dengan usaha-usaha yang digariskan oleh dharma.
Melalui upawasa ini kita dituntut untuk selektif dalam hal makan dan minum. Makanan yang kita makan disamping untuk kebutuhan tubuh, juga nanti akan bersinergi membentuk dan merangsang pikiran, perkataan dan perbuatan. Kualitas makan akan mempengaruhi intensitas Tri Guna (sattwam, rajas dan tamas) pada manusia. Makanan yang kita makan hendaknya dimasak oleh orang yang berhati baik yang memperhatikan kesucian dan gizi dari makanan tersebut. Disamping itu juga, cara memasak makanan perlu memperhatikan tentang suci dan cemar, bersih dan kotor serta cara penyajian makanan.
Disamping makanan, minuman juga diatur oleh sastra agama. Minuman yang dilarang orang agama yaitu minuman yang banyak mengandung penyakit sehingga mempengaruhi pikiran. Minuman yang perlu dihindari yakni minuman yang menyebabkan mabuk. Orang yang sering mabuk prilakunya akan dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Setiap orang dengan anggota badannya akan berprilaku dan berbuat. Jika dilandasi dengan ajaran agama sudah barang tentu perbuatan yang dilakukan adalah perbuatan yang baik dan benar. Oleh karena itu, perbuatan yang baik dan benar tersebut dinamakan Kayika Parisudha. Setiap orang selagi masih hidup, selamanya akan berbuat dan melakukan sesuatu perbuatan (karma). Karma ini akan menentukan kehidupan seseorang. Berkarma dalam kehidupan sekarang ini berarti mempersiapkan diri untuk kehidupan yang akan datang. Orang yang sadar/eling akan berusaha dalam kehidupannya untuk berbuat yang baik berdasarkan darma. Hal ini disebabkan karena semua orang mengharapkan adanya kehidupan yang lebih baik dan lebih menyenangkan dimasa-masa yang akan datang.
2.       Monobrata (berdiam diri/tidak bicara)
Monobrata ini dapat diartikan berdiam diri atau tidak mengeluarkan kata-kata. Brata ini relatif sulit untuk dilakukan. Aplikasi dalam kehidupan sehari-hari dari berata ini yakni berkata-kata atau berbicara yang dapat menyejukkan hati orang lain. Perkataan sangat perlu diperhatikan dan diteliti sebelum dikeluarkan. Karena perkataan merupakan alat yang terpenting bagi manusia, guna menyampaikan isi hati dan maksud seseorang. Dari kata-kata kita memperoleh ilmu pengetahuan, mendapat suatu hiburan, serta nasehat nasehat yang sangat berguna baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Kata-kata yang baik, benar dan jujur serta diucapkan dengan lemah lembut akan memberikan kenikmatan bagi pendengarnya. Dengan perkataan seseorang akan memperoleh kebahagiaan, kesusahan, teman dan kematian. Hal ini akan memberi arti yang sesungguhnya tentang kegunaan kata dan ucapan sebagai sarana komunikasi antara manusia yang satu dengan yang lainnya.
Perkataan yang baik, sopan, jujur dan benar itulah yang perlu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menghindari kata-kata jahat menyakitkan, kotor (ujar ahala), keras, menghardik, kasar (ujar apergas), memfitnah (ujar pisuna), bohong (ujar pisuna) dan lain-lain yang perlu dihindari dalam pergaulan.
Dengan demikian, hakekatnya Hari Suci Siwaratri adalah sebagai media introsfeksi diri untuk senantiasa mawas diri serta menyadari akan Sang Diri Sejati. Siwaratri bukanlah malam penebusan dosa, tetapi malam yang disediakan secara khusus untuk senantiasa mencapai kesadaran akan Sang Diri. Siwaratri merupakan perenungan diri sehingga dapat meminimalkan perbuatan dosa dalam kehidupan sehari-hari. Adalah tanpa makna jika merayakan Siwaratri justru yang diperoleh hanya kantuk dan lapar yang sangat menyiksa.
Setiap akhir dari kegiatan- kegiatan tersebut dilaksanakan suatu persembahyangan. Seluruh kegiatan yang dilaksanakan ini adalah untuk mengadakan latihan dan peningkatan rohani. Dengan demikian diharapkan seluruh umat yang melaksanakan kegiatan ini dapat mengisi dengan acara- acara kerohanian misalnya membaca kitab suci Weda, mendalami ajaran agama, mengadakan malam sastra, dan lain-lain.


2.3 Tata Cara Melaksanakan Upacara Siwarâtri.
Adapun Tata cara melaksanakan Upacara Siwarâtri antara lain :
1. Untuk Sang Sadhaka sesuai dengan dharmaning kawikon.
2. Untuk Walaka, didahului dengan melaksanakan sucilaksana (mapaheningan) pada pagi hari panglong ping 14 sasih Kapitu.
Upacara dimulai pada hari menjelang malam dengan urutan sebagai berikut:
1.Maprayascita sebagai pembersihan pikiran dan batin.
2.Ngaturang banten pajati di Sanggar Surya disertai persembahyangan ke hadapan Sang Hyang Surya, mohon kesaksian- Nya.
3. Sembahyang ke hadapan leluhur yang telah sidha dewata mohon bantuan dan tuntunannya.
4. Ngaturang banten pajati ke hadapan Sang Hyang Siwa. Banten ditempatkan pada Sanggar Tutuan atau Palinggih Padma atau dapat pula pada Piasan di Pamerajan atau Sanggah.
Kalau semuanya tidak ada, dapat pula diletakkan pada suatu tempat di halaman terbuka yang dipandang wajar serta diikuti sembahyang yang ditujukan kepada:- Sang Hyang Siwa.- Dewa Samodaya.
Setelah sembahyang dilanjutkan dengan nunas tirta pakuluh. Terakhir adalah masegeh di bawah di hadapan Sanggar Surya.
Rangkaian upacara Siwarâtri, ditutup dengan melaksanakan dana punia.
5. Sementara proses itu berlangsung agar tetap mentaati upowasa dan jagra.Upawasa berlangsung dan pagi hari pada panglong ping 14 sasih Kapitu sampai dengan besok paginya (24 jam).Setelah itu sampai malam (12 jam) sudah bisa makan nasi putih berisi garam dan minum air putih.Jagra yang dimulai sejak panglong ping 14 berakhir besok harinya jam 18.00 (36 jam).
6. Persembahyangan seperti tersebut dalam nomor 4 di atas, dilakukan tiga kali, yaitu pada hari menjelang malam panglong ping 14 sasih Kapitu, pada tengah malam dan besoknya menjelang pagi.

2.4            Makna Perayaan Hari Raya Siwaratri
Siwaratri adalah hari suci untuk melaksanakan pemujaan ke hadapan Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa dalam perwujudannya sebagai Sang Hyang Siwa.
Hari Siwaratri mempunyai makna khusus bagi umat manusia, karena pada hari tersebut Sang Hyang Siwa beryoga. Sehubungan dengan itu umat Hindu melaksanakan kegiatan yang mengarah pada usaha penyucian diri, pembuatan pikiran ke hadapan Sang Hyang Siwa, dalam usaha menimbulkan kesadaran diri (atutur ikang atma ri jatinya).
Hal itu diwujudkan dengan pelaksanaan brata berupa upawasa, monabrata dan jagra.Siwarâtri juga disebut hari suci pajagran.
Umat manusia dalam perjalanan hidupnya banyak kekurangan. Karena itu, hari suci Siwa Ratri ini merupakan momen yang tepat untuk melakukan perenungan atau penyadaran diri. Apa yang telah dilakukan selama ini.
Dari introspeksi itu diharapkan terjadi peningkatan diri atau pembenahan-pembenahan untuk mencapai suatu keharmonisan. Siwa Ratri juga harus dilihat sebagai latihan peningkatan moral, sehingga umat selalu ingat dengan Tuhan dan rajin berdoa.
Secara umum Siwa Ratri bermakna memberi keseimbangan jiwa pada diri seseorang. Dengan selalu melatih bidang kerohanian niscaya apa yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari akan seimbang.
Pemaknaan Siwa Ratri sendiri, menurutnya, juga harus berlangsung kontinu. Jangan hanya saat Siwa Ratri. Memang betul puncak perenungan saat Siwa Ratri. Namun, perenungan diri sendiri pun bisa dilakukan setiap saat.
Siwa Ratri mesti dimanfaatkan untuk perenungan diri. Mengendalikan perkataan melalui monabrata, diharapkan tidak muncul tindakan yang merugikan semua pihak. Sebab, melalui perkataan yang kurang terkendali bisa menyulut emosi. Karena itu, melalui perayaan hari suci Siwa Ratri, umat dapat mengosongkan pikiran untuk berkonsentrasi (kosong berisi) pada hal-hal yang berbau kerohanian. Dengan berdoa bersama-sama, memohon hal yang sama, diharapkan muncul vibrasi kesucian. Getaran itu diharapkan merasuki pribadi masing-masing, sehingga dapat berpikir jernih, berkata dan berbuat sesuai dengan ajaran agama.
Dalam perayaan Siwa Ratri mesti dirangkaikan pula dengan pemberian punia kepada sulinggih. Punia dalam bentuk itu juga termasuk yadya utama.
Dalam Bhagavadgita III, 42, dinyatakan, orang akan memiliki alam pikiran jernih, apabila atman atau jiwa yang suci itu selalu menyinari budhi atau alam kesadaran. Budhi (kesadaran) itu menguasai manah (pikiran). Manah menguasai indria. Kondisi alam pikiran yang struktural dan ideal seperti itu amat sulit didapat. Ia harus selalu diupayakan dengan membangkitkan kepercayaan pada Tuhan sebagai pembasmi kegelapan jiwa. Siwa Ratri (Ratri juga sering ditulis Latri) adalah malam untuk memusatkan pikiran pada Sanghyang Siwa guna mendapatkan kesadaran agar terhindar dari pikiran yang gelap. Karena itu, Siwa Ratri lebih tepat jika disebut ”malam kesadaran” atau ”malam pejagraan”, bukan ”malam penebusan dosa” sebagaimana sering diartikan oleh orang yang masih belum mendalami agama.
Memang, orang yang selalu sadar akan hakikat kehidupan ini, selalu terhindar dari perbuatan dosa. Orang bisa memiliki kesadaran, karena kekuatan budhinya (yang menjadi salah satu unsur alam pikiran) yang disebut citta. Melakukan brata Siwa Ratri pada hakikatnya menguatkan unsur budhi. Dengan memusatkan budhi tersebut pada kekuatan dan kesucian Siwa sebagai salah satu aspek atau manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa, kita melebur kegelapan yang menghalangi budhi dan menerima sinar suci Tuhan. Jika budhi selalu mendapat sinar suci Tuhan, maka budhi akan menguatkan pikiran atau manah sehingga dapat mengendalikan indria atau Tri Guna.
Siwa Ratri pada hakikatnya kegiatan Namasmaranâm pada Siwa. Namasmaranâm artinya selalu mengingat dan memuja nama Tuhan yang jika dihubungankan dengan Siwa Ratri adalah nama Siwa. Nama Siwa memiliki kekuatan untuk melenyapkan segala kegelapan batin. Jika kegelapan itu mendapat sinar dari Hyang Siwa, maka lahirlah kesadaran budhi yang sangat dibutuhkan setiap saat dalam hidup ini. Dengan demikian, upacara Siwa Ratri sesungguhnya tidak harus dilakukan setiap tahun, melainkan bisa dilaksanakan setiap bulan sekali, yaitu tiap menjelang tilem atau bulan mati. Sedangkan menjelang tilem kepitu (tilem yang paling gelap) dilangsungkan upacara yang disebut Maha Siwa Ratri.
Untuk dapat mencapai kesadaran, kita bisa menyucikan diri dengan melakukan sanca. Dalam Lontar Wraspati Tattwa disebutkan, Sanca ngaranya netya majapa maradina sarira. Sanca itu artinya melakukan japa dan membersihkan tubuh. Sedang kitab Sarasamuscaya menyebutkan, Dhyana ngaranya ikang Siwasmarana, artinya, dhyana namanya (bila) selalu mengingat Hyang Siwa.
Di India, setiap menjelang bulan mati (setiap bulan) umat Hindu menyelenggarakan Siwa Ratri dan tiap tahun merayakan Maha Siwa Ratri. Keutamaan brata Siwa Ratri banyak diuraikan dalam pustaka berbahasa Sanskerta, Jawa Kuno dan Bali. Ini suatu pertanda, bah-wa Siwa Ratri dari sejak dahulu sudah dirayakan baik oleh umat Hindu di India, maupun di Jawa dan Bali. Dalam kepustakaan Sanskerta, keutamaan brata Siwa Ratri diuraikan dalam kitab - kitab Purana, misalnya Siwa Purana, Skanda Purana, Garuda Purana dan Padma Purana. Siwa Purana, pada bagian Jñana Samhita memaparkan keutamaan brata Siwa Ratri dan tata-cara merayakan malam suci terbut. Di situ ada dimuat tentang dialog antara seseorang bernama Suta dan para rsi. Dalam percakapan tersebut, dikisahkanl seseorang yang kejam bernama Rurudruha. Ia menjadi sadar akan dosa-dosa yang telah diperbuat setelah melakukan brata Siwa Ratri. Berkat bangkitnya kesadarannya, ia tinggalkan semua perbuatan dosa, lalu dengan mantap berjalan di jalan dharma.
Di antara berbagai brata, mengunjungi tempat suci, memberi dana punya yang mahal seperti batu mulia (emas dan permata), melakukan berbagai jenis upacara Yajña, berbagai jenis tapa dan melakukan berbagai kegiatan Japa atau mantra untuk memuja keagungan-Nya,semuanya itu tidak ada yang melebih keutamaan brata Sivaratri.
Sejalan dengan pernyataan di atas, kakawin Sivaratri Kalpa menyatakan keutamaan Brata Sivaratri seperti diwedarkan oleh Sang Hyang Siva sebagai berikut:
”Setelah seseorang mampu melaksanakan Brata sebagai yang telah Aku ajarkan, kalahlah pahala dari semua upacara Yajña, melakukan tapa dan dana punya demikian pula menyucikan diri ke tempat-tempat suci, pada awal penjelmaan, walaupun seribu bahkan sejuta kali menikmati Pataka (pahala dosa dan papa), tetapi dengan pahala Brata Sivaratri ini, semua Pataka itu lenyap”.
”Walaupun benar-benar sangat jahat, melakukan perbuatan kotor, menyakiti kebaikan hati orang lain, membunuh pandita (orang suci) juga membunuh orang yang tidak bersalah, congkak dan tidak hormat kepada guru, membunuh bayi dalam kandungan, seluruh kepapaan itu akan lenyap dengan melakukan Brata Sivaratri yang utama, demikianlah keutamaan dan ketinggian Brata (Sivaratri) yang Aku sabdakan ini” (Sivaratri kalpa, 37, 7-8)*
Sumber Sastra itihasa Dalam Itihasa, Sivaratri terdapat dalam Mahabharata, yaitu pada Santi Parva, dalam episode ketika Bhisma sedang berbaring di atas anak-anak panahnya Arjuna, menunggu kematian, sambil membahas dharma, mengacu kepada perayaan Maha Sivaratri oleh raja Citrabhanu, raja Jambudvipa dari dinasti Iksvaku. Raja Citrabhanu bersama istrinya melakukan upavasa pada hari Maha Sivaratri. Rsi Astavakra bertanya:
“Wahai sang raja, mengapa kalian berdua melakukan upavasa pada hari ini? Sang raja dianugerahi ingatan akan punarbhawa sebelumnya, lalu ia menjelaskan kepada sang rsi.
“Dalam kehidupanku terdahulu aku adalah seorang pemburu di Varanasi yang bernama Susvara. Kebiasaanku adalah membunuh dan menjual burung-burung dan binatang lainnya. Suatu hari aku berburu ke hutan, aku menangkap seekor kijang, namun hari keburu gelap. Aku tidak bisa pulang, kijang itu kuikat di sebatang pohon. Lalu aku naik sebatang pohon bilva. Karena aku lapar dan haus, aku tidak dapat tidur. Aku teringat anak istriku yang malang di rumah, menungguku pulang dengan rasa lapar dan gelisah. Untuk melewatkan malam aku memetik daun bilva dan menjatuhkannya ke tanah.” Kisah selanjutnya mirip dengan kisah Lubdaka di Indonesia.
Siwaratri juga dikaitkan dengan cerita yang kalau ditafsirkan sembarangan, bisa ditafsirkan Siwaratri sebagai malam penebusan dosa. Cerita siwaratri dikaitkan dengan cerita Lubdaka. Konon, pada malam siwaratri, dewa siwa sebagai manifestasi tuhan melakukan yoga. Saat yang bersamaan, dikisahkan seorang pemburu bernama lubdaka kemalaman di hutan dan akhirnya menginap. agar tidak dimakan binatang buas, si lubdaka naik ke pohon dan agar tetap terjaga, sebagai pengusir kantuk, si lubdaka memetik dan menjatuhkan daun-daun pohon yang dipanjatnya. Dewa siwa konon sangat senang karena lubdaka terjaga dan ‘menemani’ dewa siwa melakukan yoga. maka ketika lubdaka meninggal, saat lembaga yudikatif kahyangan, dalam hal ini dewa yama melakukan pengadilan, datanglah satu batalyon tentara sorga yang dikirim oleh dewa siwa, dan membawa lubdaka ke sorga. padahal, dewa yama hendak mengirimnya ke neraka karena profesi pemburu adalah dosa, membunuhi binatang2 tak berdosa demi kesenangan. sementara, dewa siwa sudah terlanjur ‘sayang’ dengan lubdaka yang menemaninya suatu malam beryoga, sehingga melakukan intervensi pada putusan lembaga yudikatif kahyangan pimpinan dewa yama.Sehingga sesungguhnya Siwaratri bukanlah malam penebusan dosa, tetapi malam penyadaran dosa. Alasannya antara lain :
1.     Siwaratri artinya Siwa = Tuhan/ Bhatara Siwa; ratri = malam. Atau malamnya Bhatara Siwa/ Tuhan, saat yang tepat bagi manusia untuk merenungi kehidupan di masa lampau serta sadar/ eling pada dosa-dosa yang terlanjur, baik sengaja atau tidak sengaja telah terjadi. Kemudian berjanji dan menguatkan tekad untuk tidak mengulangi dosa. Demikian halnya dengan kisah Lubhdaka di mana setelah siwaratri dia tidak lagi berbuat dosa.
2.     Dosa manusia tidak dapat dihapus/ dilebur, dan harus dipertanggungjawabkan oleh roh/ atman kepada Bhatara Yamadipati (Tuhan) di saat ‘mantuk ke sunia’. Namun demikian, dosa dapat diimbangi dengan perbuatan dharma. Ibarat sinar matahari yang tetap terik, namun bila ada angin segar berhembus atau matahari tertutup mega, maka sinarnya yang panas tidak terasa.
3.     Kesadaran itulah yang perlu ditumbuhkan di saat melakukan brata siwaratri.



BAB III
PENUTUP

3.1   Simpulan
Hari raya Siwaratri sesungguhnya bukan berarti malam penghapusan dosa, tetapi malam pejagraan atau malam kesadaran untuk menyadarkan kita pada dosa – dosa yang telah dilakukan sehingga melalui malam perenungan ini, kita dapat memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan serta malam untuk memusatkan pikiran kepada Sanghyang Siwa guna mendapatkan kesadaran agar terhindar dari pikiran yang gelap dan mengendalikan hawa nafsu dengan jalan melaksanakan Brata Siwaratri yaitu Upawasa, Monobrata, dan Jagra .

3.2  Saran
Sebagai umat yang menjalankan hari raya Siwaratri sebaiknya mengisi perayaannya dengan kegiatan – kegiatan positif seperti menjalankan brata Siwaratri dengan benar, serta melakukan dana punia pada akhir kegiatan, sehingga perayaan hari raya Siwaratri terasa lebih bermakna.


DAFTAR PUSTAKA

Ida Bagus Sudirga, Widya Dharma Agama Hindu, Ganeca Exact.
Drs. I Ketut Wijaya, Pendidikan Agama Hindu, CV. Sinar Bali.
http://www.google.co.id/#hari+raya+siwaratri#